Sunday, 6 October 2013

ATURAN DAN KEDEWASAAN SUPORTER INDONESIA


Ada hal yang menarik saat federasi sepak bola Asia, AFC, menjatuhkan hukuman tanpa penonton pada timnas Indonesia kala menjamu China dan Irak dalam lanjutan babak kualifikasi Piala Asia. Hukuman tersebut didapat Indonesia saat suporter tim Merah Putih menyalakan kembang api di dalam stadion ketika pertandingan melawan Arab Saudi masih berlangsung. Dari peristiwa itu, suporter kita seolah-olah tidak mengetahui aturan yang berlaku dalam dunia sepak bola. Bukan hanya pada suporter, AFC mungkin terheran-heran, apakah PSSI dan pihak keamanan tidak mengetahui perihal dilarangnya penonton menyalakan kembang api di dalam stadion? Walaupun sebenarnya imbauan itu telah disosialisasikan dan diterapkan di peraturan Liga Indonesia, tetapi mengapa kejadian tak terdidik itu masih saja terjadi?
                Pertama, masih belum sadarnya suporter akan aturan menjadi pemicu lahirnya sanksi laga tanpa penonton untuk timnas Indonesia. Andai saja penonton sadar akan aturan yang sudah tidak asing tersebut, mungkin kita tidak akan mengalami kerugian yang cukup besar ini. Disaat Boaz Solosa dkk. membutuhkan dukungan masyarakat secara langsung untuk melanjutkan perjuangan agar dapat lolos ke Piala Asia, perjuangan tim Garuda nanti mutlak harus bertanding dengan sebelas pemain saja, tanpa ada tambahan motivasi dari pemain kedua belas mereka yang selalu memerahkan stadion termegah di negeri ini.
                Kedua, kurang ketatnya keamanan yang diterapkan dalam setiap pertandingan sepak bola di negara kita. Terbukti sudah, penonton selalu lolos membawa barang-barang yang seharusnya dilarang masuk ke tribun stadion. Pihak keamanan selalu ada di setiap pintu masuk stadion yang tugasnya untuk mengecek barang terlarang masuk. Tetapi entahlah, suporter kita mungkin lebih cerdik karena terbukti dapat mengelabui pihak keamanan di setiap pintu stadion.
                Ketiga, adalah sesuatu yang sudah menjadi tradisi hampir setiap suporter klub di Indonesia yang suka menyalakan kembang api, mercon, petasan, bahkan penggunaan laser untuk merayakan kemenangan dan mengganggu pemain tim lawan. Ulah nakal para oknum suporter ini seharusnya dapat dihentikan oleh PSSI. Peranan PSSI dalam mendewasakan seluruh elemen yang terkait di sepak bola sangat besar. Dapat kita nilai bersama, langkah yang selalu diambil PSSI untuk menindak klub yang memiliki suporter pelanggar. Adakah ketegasan sanksi atau hukuman yang dijatuhkan PSSI terhadap klub dan suporter yang melanggar aturan? Masih belum. Ya, PSSI masih belum tegas dan belum dapat memberikan efek jera terhadap peserta liga yang menyalahi aturan yang sudah berlaku.
                Selama ini sanksi atau hukuman yang diberikan PSSI belum dapat membuat jera para oknum yang melanggar. Sebagai contoh, komisi disiplin PSSI hanya menjatuhkan denda puluhan juta saja pada setiap klub jika suporternya melanggar aturan seperti menyalakan mercon dan kembang api di dalam stadion saat laga masih berlangsung. Denda seperti itu jelas kurang berimbas dan kurang memberikan efek jera pada para pelaku. Jelas tidak berpengaruh, karena yang melakukan pelanggaran adalah oknum suporter, namun hukuman yang diberikan PSSI adalah berupa denda pada klub yang didukung oleh suporternya. Apalagi dengan denda puluhan juta yang sebenarnya “tidak seberapa” karena denda puluhan juta dapat tertutupi oleh penghasilan penjualan tiket penonton. Bukankah kejadian itu karena penonton yang berulah? Lalu efek jera apa yang didapat penonton jika PSSI hanya menjatuhkan denda pada klub? Hukuman tersebut jelas kurang tepat, apalagi klub tidak pernah melibatkan suporter untuk membayar denda yang diterima dari komisi disiplin.
                Ketidak tegasan dan ketidak tepatan PSSI dalam menjatuhkan hukuman pada suporter yang masih sering melanggar aturan akhirnya menjadikan suatu kebiasaan. Suporter seakan tidak pernah berbuat salah, sehingga mereka jarang tersentuh sanksi tegas dan akhirnya membawa kebiasaan yang telah terbentuk di liga lokal ke pertandingan internasional. Pada akhirnya hal ini merupakan tanggung jawab kita bersama untuk menjadikan suporter kita menjadi lebih tertib. Terapkan toleransi pada waktu yang semestinya, jangan selalu menganggap wajar suatu kesalahan dan diberi toleransi. Bukankah kita sering terkejut pada saat tampil di penyelenggaraan internasional pada aturan dan sanksi yang sebenarnya sudah baku? Ya, kejutan itu menyadarkan kita bahwa aturan dan hukuman seharusnya dijalankan dengan benar, bukan harus selalu dimaklumi dan ditoleransi sehingga tidak memberikan perubahan ke arah yang lebih baik.

Penulis, Indra Santira




No comments:

Post a Comment